Sabtu, 20 Juni 2009
Minggu, 14 Juni 2009
"Cape Deh"
Dari Manohara, Ambalat, Prita, Siti Hajar sampai capres dan wapres2nya mana yang paling menarik untuk kita sekedar omongin sambil minum kopi? Kayaknya kalau boleh memilih sih mending ngomongin Manohara sajalah, selain dada dan bokongnya besar juga lumbayan cantiklah. Busyet......umuran segitu segalanya udah pada matang, bener bongsor, soalnya blasteran amrik sama lokal pasti lain hasilnya. Apa bener ya, Manohara di Klantan dapat siksaan? Masa disiksa sampai subur dan seger gitu ya? Makanya kalau mau jadi TKW ke Malaysia jangan mau jadi pembantu, jadilah istri pangeran2 disana atau saudara2nya pangeran barangkali biar siksaannya lain daripada yang jadi babu. Babu yang disiksa majikannya pasti penyok2, kulit mengelupas, tulang2 yang remuk, gigi yang tanggal dll yang semuanya mengerikan, nggak kalah mengerikan dari "peristiwa Loebang Boeaja". Seolah semua peristiwa di negeri tercinta ini selalu menjadi penting, padahal nggak penting2 banget. Jadi mana berita pentingnya? susah kita tuk memilah-milahnya.
Berita yang penting itu adalah, segala hal yang menyangkut kepentingan bangsa dan negara yang dilakukan oleh pemingpin bangsa dan rakyatnya. Ya iyalah, untuk benahi bangsa dan negara yang lumayan kacau ini harus dilakukan bersama2 nggak bisa dilakukan orang perorang, kelompok perkelompok. Musti dilakukan oleh segenap bangsa ini tanpa kecuali. Selama ini pemingpin2 bangsa ini hanya omong doang, bohong melulu umbar janji gila2an sampai rakyat terbengong2 terkesima terbuai mimpi yang begitu indahnya. Sudah menjadi hal yang lumrah di negeri kita ini, kebohongan pemimpin dan pengelola bangsa dan negara ini adalah obat bius yang cukup melenakan bagi rakyat kita yang umumnya jelata. Mereka lupa tinggal di gubuk di bantaran sungai yang bau, mereka lupa jeritan perut yang kosong, mereka lupa tak ada uang di kantong sepeserpun, mereka lupa untuk mendapat uang lima rebu perak pun musti berpeluh2, mereka lupa tuk mencari sesuap nasi pun harus meninggalkan solatnya dan lain dan lain. Rakyat menikmati kebohongan itu sebagai obat "anti nyeri". Sang pembohong dan yang dibohongi saling menikmati, sebagai lingkaran setan yang menjadi candu kenikmatan.
Marilah kita sadar wahai anak negeri, janganlah suka dan menjadi penikmat kebohongan. Hiduplah dalam kenyataan dan kejujuran, miskin adalah miskin, lapar adalah lapar. Jangan miskin merasa kaya, jangan lapar mengaku kenyang. Memang benar kita laksana "tikus mati di lumbung" segala kekayaan alam yang melimpaha ini kita tetap miskin dan lapar, tragis. Hanya sebagian orang saja dari sekian banyak penduduk negara ini yang menikmati kekayaan negeri ini. Para penguasa dan pejabat yang korup, para cukong dan sodagar yang kolusi hanya sedikit yang benar2 kaya dari hasil jerih payah dan berusaha dgn jujur.Tragis benar negeri ini dari pusat hingga ke daerah semua pemimpin adalah pemimpin yang zolim, rakus dan aniaya. Yang diikuti para bawahan tak kalah kemaruk dan dahaga akan uang yang tak halal. Mau kemana negeri tercinta ini.........? Cape deh, nggak ada solusi
Berita yang penting itu adalah, segala hal yang menyangkut kepentingan bangsa dan negara yang dilakukan oleh pemingpin bangsa dan rakyatnya. Ya iyalah, untuk benahi bangsa dan negara yang lumayan kacau ini harus dilakukan bersama2 nggak bisa dilakukan orang perorang, kelompok perkelompok. Musti dilakukan oleh segenap bangsa ini tanpa kecuali. Selama ini pemingpin2 bangsa ini hanya omong doang, bohong melulu umbar janji gila2an sampai rakyat terbengong2 terkesima terbuai mimpi yang begitu indahnya. Sudah menjadi hal yang lumrah di negeri kita ini, kebohongan pemimpin dan pengelola bangsa dan negara ini adalah obat bius yang cukup melenakan bagi rakyat kita yang umumnya jelata. Mereka lupa tinggal di gubuk di bantaran sungai yang bau, mereka lupa jeritan perut yang kosong, mereka lupa tak ada uang di kantong sepeserpun, mereka lupa untuk mendapat uang lima rebu perak pun musti berpeluh2, mereka lupa tuk mencari sesuap nasi pun harus meninggalkan solatnya dan lain dan lain. Rakyat menikmati kebohongan itu sebagai obat "anti nyeri". Sang pembohong dan yang dibohongi saling menikmati, sebagai lingkaran setan yang menjadi candu kenikmatan.
Marilah kita sadar wahai anak negeri, janganlah suka dan menjadi penikmat kebohongan. Hiduplah dalam kenyataan dan kejujuran, miskin adalah miskin, lapar adalah lapar. Jangan miskin merasa kaya, jangan lapar mengaku kenyang. Memang benar kita laksana "tikus mati di lumbung" segala kekayaan alam yang melimpaha ini kita tetap miskin dan lapar, tragis. Hanya sebagian orang saja dari sekian banyak penduduk negara ini yang menikmati kekayaan negeri ini. Para penguasa dan pejabat yang korup, para cukong dan sodagar yang kolusi hanya sedikit yang benar2 kaya dari hasil jerih payah dan berusaha dgn jujur.Tragis benar negeri ini dari pusat hingga ke daerah semua pemimpin adalah pemimpin yang zolim, rakus dan aniaya. Yang diikuti para bawahan tak kalah kemaruk dan dahaga akan uang yang tak halal. Mau kemana negeri tercinta ini.........? Cape deh, nggak ada solusi
Langganan:
Postingan (Atom)